Mukaddimah

Bahwa sesungguhnya cendekiawan sebagai golongan yang terpelajar, memikul tanggung jawab yang besar bagi kemajuan masyarakat. Dengan sifat dan kualitas keterpelajarannya, cendekiawan mempunyai keunggulan intrinsik, yang merupakan modal untuk menunaikan peran dan misinya dalam pembangunan bangsa, dan negaranya.

Sebagai ulil albab, cendekiawan adalah kelompok manusia yang diberi al-hikmah (wisdom) di samping pengetahuan yang diperolehnya secara empirik (Q.S 2 : 269) Sesungguhnya hikmah adalah nikmat Allah yang tertinggi dan termulia, dan bertaqwa. Dengan hikmah itu pula, cendekiawan mampu mencandra kehidupan dan lingkungan sosialnya, melalui sikap kreatif, kritis, obyektif,dan analitis yang mengacu kepada tanggung jawab Ilahiah. Oleh karena itu cendekiawan sebagai golongan penerima hikmah wajib mensyukuri dengan memanfaatkannya untuk pengabdian kepada Allah SWT melalui perjuangan membangun umat, bangsa dan negaranya. Dengan demikian, cendekiawan dan kemusliman sebagai rahmat dan nikmat Allah SWT haruslah melahirkan komitmen yang bersifat transenden: ketaqwaan, kesalehan, serta cita-cita luhur untuk membangun sejarah dan peradaban manusia berdasarkan ajaran Islam.

Dengan posisi dan amanah tersebut, cendekiawan muslim sebagai hamba Allah dan selaku warga negara Indonesia menyadari betapa besarrnya tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam rangka melaksanakan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila dan pelaksanaan Undang-undang Dasar 1945. Karenanya Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), bertekat untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam rangka mensukseskan pembangunan. Sebagai wadah pengabdian kepada Allah, ICMI akan berperan aktif dalam proses pembangunan dengan ikut serta dalam mengembangkan perumusan pemikiran dan konsep pembangunan serta ikut serta memecahkan permasalahan strategis baik yang berskala lokal, regional, maupun global.

ICMI sepenuhnya menyadari, terlaksananya pembangunan nasional melalui Pelita I sampai dengan V, merupakan rahmat Allah SWT yang patut disyukuri. Diukur dari racangan dan target-target yang dicanangkan dalam pola umum Pembangunan Nasional Jangka Panjang 25 Tahun Pertama dan GBHN untuk Pelita I sampai dengan V, secara umum pembangunan selama ini yang tak ternilai harganya bagi bangsa Indonesia untuk dengan mantap memasuki era Pembangunan Jangka Panjang 25 Tahun Kedua (PJP II), yang dikenal sebagai Era Tinggal Landas dan Kebangkitan Nasional Kedua. Era PJP II sebagian besar akan berlangsung pada abad ke-21, yang diperkirakan akan banyak sekali perkembangan dan kecendrungan baru yang memerlukan perhatian dan antisipasi bersama, baik kecendrungan perkembangan di dalam maupun di luar negeri. Abad mendatang juga ditandai dengan semakin meningkatnya kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi yang akan mendorong dinamika perubahan dunia dalam waktu yang amat cepat.

Dalam dinamika perubahan tersebut, bangsa Indonesia diharapkan mampu mengantisipasi dan bereaksi secara proporsional, sehingga tidak lari atau hanyut dalam perubahan, melainka dapat survive dan bahkan memanfaatkan perubahan untuk mencapai kemajuan dan cita-cita bangsa.

Jika pembangunan nasional 25 tahun pertama dilaksanakan dalam suatu masa yang relatif stabil, maka pembangunan 25 tahun kedua akan dilakukan dalam masa yang penuh dengan dinamika serta tantangan yang dihadapi, baik dari dalam maupun dari luar. Kita menyadari bahwa dalam kurun waktu 25 tahun pertama pembangunan, telah dihasilkan perbaikan struktural lingkungan fisik dan ekonomi. Keberhasilan ini merupakan modal dasar bagi terlaksananya pembangunan yang lebih komprehensif, dalam rangka terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana diamanatkan oleh GBHN. Pembangunan yang komprehensif mencita-citakan keberadaan manusia dan masyarakat Indonesia yang adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan. Pembangunan yang komprehensif juga menghendaki keseimbangan kualitas kehidupan material dan spiritual manusia dan masyarakat Indonesia, di mana umat Islam merupakan bagian tak terpisahkan.

Momentum pembangunan itu, baik di masa sekarang maupun yang akan datang perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh bangsa Indonesia umumnya dan umat Islam khususnya. Bagi umat Islam Indonesia, momentum pembangunan itu perlu direspon dengan sikap dan semangat yang pro-aktif yang didukung oleh kualitas etos kerja dan etos sosial yang tinggi, demi terwujudnya hari depan bangsa dan negara Indonesia yang lebih baik, dalam limpahan rahmat dan ridla Allah SWT.

Sebagai wadah berhimpunnya cendekiawan muslim, ICMI merasa yakin bahwa dalam proses pembangunan yang tengah dilakukan oleh bangsa Indonesia, nilai-nilai yang bersumber dari ajaran agama perlu terus-menerus digali untuk diaktualisasikan dalam proses pembangunan, baik sebagai modal dasar maupun sebagai tata nilai yang mensifati manusia Indonesia yang religius. Dalam merealisasikan agama sebagai modal dasar pembangunan, yang perlu diupayakan adalah menjadikan nilai-nilai agama sebagai sumber inspirasi, motivasi, etos, serta etika pembangunan. Dalam hubungan ini, faktor keseimbangan antara kesadaran intelektual (intellectual consciousness) dengan kesadaran keagamaan (religious consciousness) masyarakat perlu terus menerus dikembangkan. Di sisi lain, upaya kontekstualisasi, dalam makna operasionalisasi, nilai-nilai agama perlu dikembangkan sedemikian rupa sehingga melahirkan manusia Indonesia yang benar-benar berkualitas di tengah arus dinamika dan perubahan zaman dari masa ke masa.

Sebagai manifestasi dari kesadaran intelektual dan kesadaran keagamaan itu, ICMI bertekad mengembangkan landasan etik dan dan moral yang bercirikan taqwa, dengan jalan mengembangkan kualitas iman, kualitas hidup, kualitas berpikir, kualitas bekerja, dan kualitas berkarya manusia Indonesia. Untuk membangun 5 (lima) kualitas ini, diperlukan sumber daya manusia yang tangguh dan mampu menggalang potensi nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan yang mampu melahirkan produktivitas prestasi dan keunggulan nasional.

Share This