Sejarah

Latar Belakang Kelahiran ICMI
(Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia)

Kelahiran ICMI bukanlah sebuah kebetulan sejarah belaka. Tapi erat kaitannya dengan perkembangan global dan regional di luar dan di dalam negeri. Menjelang akhir dekade 1980-an dan awal dekade l990-an, dunia ditandai dengan berakhirnya perang dingin dan konflik ideologi. Keruntuhan komunisme sebagai salah satu ideologi yang terkuat di dunia, mengakibatkan terjadinya perpecahan dan disintegrasi di negara-negara yang diperintah oleh rezim komunis, khususnya di Eropa Timur. Ketika kemudian Uni Soviet sebagai negara adikuasa juga runtuh, peta politik dunia juga berubah secara drastis. Barat dan khususnya Amerika yang memegang hegemoni kekuatan, tidak lagi memiliki “lawan tanding” yang tangguh dalam perebutan pengaruh. Sementara itu, di sisi lain, di berbagai belahan dunia tertentu muncul semangat kebangkitan agama (religious revival) yang membawa implikasi bagi adanya resistensi terhadap arus kekuatan sekuler sebagai produk dari peradaban Barat.

Kebangkitan agama itu secara mencolok juga ditandai dengan tampilnya Islam sebagai “ideologi peradaban” dunia dan kekuatan alternatif bagi perkembangan peradaban dunia. Bagi Barat, kebangkitan Islam ini menjadi masalah yang serius karena itu berarti hegemoni mereka menjadi terancam. Apa yang diproyeksikan sebagai konflik antar peradaban, lahir dari perasaan terancam Barat yang subjektif terhadap Islam sebagai kekuatan peradaban dunia yang sedang bangkit kembali.

Tetapi bagi umat Islam sendiri, kebangkitan yang muncul justru memberikan motivasi untuk mencari alternatif bagi munculnya transformasi nilai-nilai kultural yang membebaskan manusia dari kegelisahan batin dan ketidakpastian tujuan hidup, sebagai akibat perkembangan peradaban yang terlalu berorientasi pada materialisme.

Manusia, termasuk manusia Indonesia, terus mencari-cari pegangan agar tidak goyah oleh perubahan apa pun. Dalam situasi seperti ini, Islam ternyata menjadi pilihan yang lebih menjanjikan di banding dengan ideologi atau peradaban mana pun. Bertahap tapi pasti, semangat keislaman meningkat dan menyatu dalam identitas keindonesiaan bangsa Indonesia yang tengah melaksanakan pembangunan. Ini membawa konsekuensi bagi meningkatnya peran serta umat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Meningkatnya peran serta umat Islam itu ditunjang dengan adanya ledakan kaum terdidik (intellectual booming) di kalangan kelas menengah kaum santri Indonesia. Program dan kebijaksanaan pendidikan Orde Baru secara langsung maupun tidak langsung telah melahirkan generasi baru kaum santri yang terpelajar, modern, berwawasan kosmopolitan, berbudaya kelas menengah, serta mendapat tempat dalam institusi-institusi modern.

Panen besar kaum terpelajar muslim itu semakin bertambah ketika dunia pendidikan makin memberikan peluang kepada mereka untuk bisa meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri. Berkat kecakapan dan kemampuan akademik yang tinggi, kelas menengah “neo-santri” yang terpelajar itu dapat memasuki dan mengisi lapisan birokrasi, dunia kampus, dunia usaha, dan lembaga-lembaga masyarakat dengan profesionalisme yang teruji.

Dengan kondisi yang membaik ini, maka pada dasawarsa 80-an mitos bahwa umat Islam Indonesia merupakan “mayoritas tetapi secara teknikal minoritas” runtuh dengan sendirinya. Sementara itu, pendidikan berbangsa dan bernegara yang diterimanya di luar dan di dalam kampus, telah mematangkan mereka bukan saja secara mental, tapi juga secara intelektual. Dari mereka itu, lahirlah critical mass yang responsif terhadap dinamika dan proses pembangunan yang tengah dijalankan. Di sisi lain, critical mass itu telah semakin memperkuat tradisi intelektual melalui pergumulan ide-ide dan gagasan-gagasan yang didiseminasikan secara kreatif dalam forum-forum seminar, pertemuan, atau diekspresikan sebagai karya tulis di media cetak dan buku-buku. Ini semua melahirkan kepemimpinan intelektual yang sangat kontributif terhadap pembangunan bangsa.
Potensi istimewa ini, sampai dengan akhir dekade 1980-an masih tercerai berai. Tetapi berkat rahmat dan kehendak Allah SWT, potensi itu akhirnya tergalang dengan baik lewat pembentukan ICMI. Melalui ICMI diharapkan potensi umat Islam yang meliputi 88 % penduduk Indonesia dapat lebih berperan dalam pembangunan nasional.

Sementara itu, dalam beberapa tahun terakhir ini telah terjadi perkembangan dan perubahan iklim politik yang makin kondusif bagi tumbuhnya saling pengertian antara umat Islam dengan komponen bangsa yang lain, termasuk yang berada dalam birokrasi. Kohesi yang positif ini telah mendorong timbulnya situasi yang kondusif untuk memelihara momentum pembangunan sebagai pengamalan Pancasila dan UUD 1945.

Namun demikian disadari bahwa motivasi kelahiran ICMI juga tidak bisa dipisahkan dari kehendak kalangan cendekiawan muslim untuk menciptakan keadaan yang lebih adil dan proporsional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kehendak ini wajar karena di masa lalu, umat Islam oleh karena kondisi objektif yang dimilikinya ataupun karena rekayasa pihak-pihak tertentu, berada dalam posisi yang marginal, bahkan pernah diidentifikasi sebagai kekuatan-kekuatan destruktif yang anti pembangunan. Melalui ICMI sebagai agregat kaum cendekiawan muslim, diharapkan muncul perubahan-perubahan yang dinamis dalam Indonesia yang merdeka, maju, bersatu, berdaulat, sejahtera, adil, makmur dan lestari berdasarkan Pancasila.

Share This